Komisi Yudisial merupakan lembaga negara yang bersifat mandiri dan dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh kekuasaan lainnya. Kedudukan komisi yudisial termaktub dalam konstitusi, UUD 1945, pasal 24 B. Memiliki tugas dalam melaksanakan wewenang menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga prilaku hakim, dengan tugas melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap prilaku hakim, menerima laporan dari masyarakat berkaitan dengan pelanggaran KEPPH (Kode Etik dan Pedoman Prilaku Hakim), melakukan verifikasi, klarifikasi dan investigasi terhadap laporan dugaan pelanggaran KEPPH, memutus benar tidaknya laporan dugaan pelanggaran KEPPH serta mengambil langkah hukum dan/atau langkah lain terhadap orang perseorangan, kelompok orang, atau badan hukum yang merendahkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim.

Dalam menjalankan tugasnya, KY terbantu dengan adanya laporan masyarakat yang diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia atau kuasanya yang mendapat kuasa khusus untuk itu. Jumlah laporan hingga April 2017, telah masuk sebanyak 971 laporan yang terbagi atas 505 laporan berupa tembusan dan 466 laporan langsung yang dikirim ke Komisi Yudisial. Dari hasil laporan tersebut, hanya 97 laporan yang terverifikasi dan dilanjutkan ke penanganan lanjutan.

Ada beberapa pola penanganan laporan masyarakat, meliputi tahapan laporan masyarakat, penanganan pendahuluan berupa penerimaan laporan masyarakat dan dilanjutkan dengan verifikasi. Setelah itu penanganan lanjutan berupa analisis dan pemeriksaan pelapor, saksi dan/atau ahli. Lalu dilanjutkan ke sidang panel (DI atau TDI), kemudian sidang pleno (apakah terbukti atau tidak terbukti) dan hasilnya berupa rekomendasi yang nantinya akan diberikan ke MA (Mahkamah Agung) untuk ditindak lanjuti.

Hasil rekomendasi tersebut, menjadi bahan pertimbangan MA dalam menjatuhkan sanksi kepada hakim yang melakukan pelanggaran kode etik pedoman dan/atau prilaku hakim yang diusulkan oleh Komisi Yudisial dalam waktu paling lama 60 hari terhitung sejak tanggal usulan diterima oleh MA. Usulan sanksi yang akan diberikan kepada hakim yang terbukti melakukan pelanggaran terbagi atas 3 kategori, sebagai berikut :
  • Usulan sanksi ringan berupa teguran lisan, teguran tertulis dan pernyataan tidak puas secara tertulis;
  • Usulan sanksi sedang berupa penundaan kenaikan gaji berkala paling lama 1 tahun, penurunan gaji sebesar 1 kali kenaikan gaji berkala paling lama 1 tahun, penundaan kenaikan pangkat paling lama 1 tahun, hakim non palu paling lama 6 bulan.
  • Usulan sanksi berat berupa pembebasan dari jabatan struktural, hakim non palu lebih dari 6 bulan sampai dengan 2 tahun, pemberhentian sementara, pemberhentian tetap dengan hak pensiun, pemberhentian tetap tidak dengan hormat.
Hakim yang mendapat sanksi diatas adalah hakim yang terbukti telah melanggar prinsip kode etik dan pedoman prilaku hakim, dikelompokkan kedalam 10 prinsip yaitu hakim tidak berprilaku adil, hakim tidak berprilaku jujur, hakim tidak berprilaku arif dan bijaksana, hakim tidak bersikap mandiri, hakim tidak berintegritas tinggi, hakim tidak bertanggung jawab, hakim tidak menjunjung tinggi harga diri, hakim tidak berdisiplin tinggi, hakim tidak berprilaku rendah hati, dan hakim tidak bersikap profesional.

Jika hakim terbukti melanggar salah satu prinsip diatas, hakim dapat melakukan pembelaan. Akan ada penunjukan majelis MKH (Majelis Kehormatan Hakim). MKH adalah forum pembelaan diri bagi hakim yang berdasarkan hasil pemeriksaan dinyatakan terbukti melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan, serta diusulkan untuk dijatuhi sanksi berat berupa pemberhentian. Dalam pelaksanaan MKH, keanggotaan terdiri atas 3 orang Hakim Agung dan 4 orang anggota Komisi Yudisial, anggota MKH bukan merupakan anggota tim pemeriksa yang melakukan pemeriksaan langsung terhadap dugaan pelanggaran kode etik dan pedoman prilaku hakim.

Kesimpulannya bahwa hakim yang di duga melakukan pelanggaran kode etik dan pedoman prilaku hakim, bentuk dugaannya hanya tiga yaitu hakim dalam pemberian putusan, prilaku hakim didalam dan diluar persidangan serta keduanya yakni dugaan atas putusan dan prilaku hakim itu sendiri. Sekian semoga bermanfaat, semangat dalam menebar kebaikan :)

©Pekanbaru, 24 Mei 2017 @Cicajoli  

Hai semua, lelaki itu adalah Papaku. Dipanggil dengan Ompung Umar, gegara cucu pertamanya bernama Umar, semoga cucu selanjutnya bisa nyusul ya Pung :) Lagi pengen cerita tentang Papa, apa aja yang saya tahu tentang Papa dan hal-hal kecil lainnya. 

Papaku anak tunggal, gak punya kakak dan adik. Hanya sendiri. Saya pernah mikir, gimana ya saat muda dulu, cara nyemangatin diri saat down dan kalo mau curhat kesiapa, secara saya aja masih butuh adik buat cerita apa aja, mulai dari kuliah serta minta semangat dalam pengerjaan skripsi, karena menurut saya dukungan itu obat yang paling manjur selamanya. Berarti Papaku orang nya hebat, dengan kemandirian yang sudah dimiliki sejak muda, Salut!

Papaku anak kekinian, tidak pandang umur yang sudah masuk kepala 5 tapi tetap mempunyai social media, dan Papaku mengalahkan anaknya sendiri, dia abang saya. Papaku memiliki akun Instagram, Punya E-mail, Punya Line, Punya WA dan apa lagi yaak? Saya nggak sempat nge-cek semua, tapi yang paling penting kamu tahu, bahwa Papaku orang nya nggak mau kalah dengan zaman, kalo zaman lagi nge-tren ini maka Papaku juga harus bisa, minimal tahu apa perkembangan terbaru tersebut. Berarti Papaku orang nya hebat, dengan keingintahuan yang awet hingga tua pun masih lanjut, Salut!

Papaku lagi sakit, dari umur 30-an kalo saya nggak salah, gejala penyakitnya sudah muncul, konkritnya kalo Papaku kesandung benda maka Papaku akan terjatuh, dilihat dari case nya berarti Papaku tidak bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh, penyakit itu terus berkembang seiring bertambahnya usia, hingga usia sekarang Papaku semakin lemah, sekarang Papaku sudah sulit untuk berdiri, dan sudah melakukan pengobatan, dokter berkesimpulan bahwa penyakit Papaku masuk ke Mascular Distrofi, untuk setiap penyakit kan memiliki unsur-unsur yang harus dipenuhi, jadi untuk penyakit ini, tidak semua unsur yang Papaku penuhi, tapi sudah mendekati ke penyakit tersebut. Berarti Papaku sedang sakit, dan itu tidak menghapuskan kalimat Papaku Hebat dari dirinya, Papaku tetap hebat!

Papaku pemberi motivasi yang modern, dengan adanya social media yang beliau miliki, Papaku memanfaatkan nya untuk mencari hal-hal yang beda, kalo anak zaman sekarang menggunakan social media hanya untuk publish kebahagiaan, pencitraan, atau pamer-pamer gak berfaedah gitu, Papaku beda. Beliau gunakan untuk memberikan motivasi untuk anak-anaknya, konkritnya ada postingan yang baik, beliau akan tag (tandai) masing-masing anaknya. Berarti Papaku orang nya hebat, dengan social media dia menjadi motivator bagi kami, Salut!  

Papaku pekerja keras, sejak dulu- sejak kami masih kecil-kecil, Papaku sering keluar kota dalam rangka mengambil barang dagangan, Papaku wiraswasta dulunya. Untuk itu Papa sering ngambil barang sendiri, beliau kerja pagi-siang-malam demi keluarganya, walaupun aku nggak ingat jelas tentang itu, tapi aku merasakannya dan menyaksikan nya sekarang, karena ada hasil dari kerja keras yang Papaku lakukan selama ini, Alhamdulillah beliau dapat menguliahkan kelima anaknya, dan satu persatu mulai bekerja dan menikah. Papaku hebat dan Mamaku juga hebat, karena selama ini Mamaku orang yang berada di belakang, disamping kiri dan kanan Papaku, membangun semua ini bersama-sama, kami salut dengan mereka. 

Kamu yang baca tulisan ini, juga akan bilang bahwa Orangtua kita hebat, saya berharap semua orangtua yang masih hidup dimana pun mereka berada, selalu Allah berikan kesehatan, jasmani dan rohani, bahagia dimasanya dan bangga dengan anak-anaknya. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT, bisa dapat kesempatan di Ramadhan tahun ini, dan selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan dan/atau titipkan ke kita. Sampai Jumpa!:) 

©Pekanbaru, 10 Mei 2017 @Cicajoli  

Kota Pekanbaru lagi digegerkan dengan berita kaburnya beberapa orang yang berada di Rutan Kelas II B pada jum'at siang lalu. Peristiwa itu hingga sekarang masih terus diberitakan di beberapa media lokal maupun media nasional. Berita terbaru adalah kedatangan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) ke Pekanbaru mengunjungi Rutan, dalam kunjungan nya beliau marah kepada pegawai Rutan akibat beberapa hal yaitu adanya dugaan pungli terhadap tahanan, tidak mendapatkan pelayanan yang baik, adanya penganiayaan yang terjadi di Rutan. 

Sangat disesali dengan kinerja pegawai yang buruk, hanya membuat reputasi jelek ditengah masyarakat. Dan masyarakat sedang membicarakan kejadian ini termasuk penggunaan kata napi yang lagi sering disebut-sebut masyarakat untuk julukan orang-orang yang kabur dari Rutan tersebut. Sebenarnya pemakaian kata napi tidak sesuai dengan orang-orang tersebut, ada beberapa penjelasan tentang napi atau Narapidana agar jelas dan tepat.

Pembagian Sistem Hukum Pidana Indonesia, terbagi atas Lapas dan Rutan.
  • Lapas yakni Lembaga Pemasyarakatan, yaitu tempat untuk melaksanakan pembinaan Narapidana dan Anak didik Pemasyarakatan.
  • Rutan yakni Rumah Tahanan Negara, yaitu tempat tersangka/terdakwa ditahan sementara sebelum keluarnya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap guna menghindari tersangka/terdakwa tersebut melarikan diri atau mengulangi perbuatannya.
Untuk lebih jelasnya, lihatlah tabel dibawah ini agar lebih mudah dipahami :

Jadi intinya bahwa orang-orang yang berada di Rutan belum dapat dikatakan Narapidana, pemakaian Narapidana hanya dapat digunakan kepada orang-orang yang berada di Lapas, maka dari itu ubahlah pemakaian kata narapidana dan gantilah dengan sebutan tahanan dan/atau tersangka/terdakwa. Tersangka untuk orang yang belum menjalani proses pengadilan, dan terdakwa untuk orang yang sedang dalam proses pengadilan.

Semoga artikel ini dapat membantu kamu semua, dan jangan salah dalam pemakaian kata narapidana karena dapat merugikan. Kerugiannya pada Lapas, nanti dikira bahwa orang-orang di Lapas yang kabur, bisa saja salah paham dan kasihan Kalapas (Kepala Lembaga Pemasyarakatan) yang dikabarkan dengan pemberitaan buruk.

 ©Pekanbaru, 07 Mei 2017 @Cicajoli