Ingin Bertanya, Tapi Bagaimana?

, , 1 comment
Lagi nungguin no antrian yang menurut logika " MASIH LAMA!" untuk satu antrian saja membutuhkan waktu sekitar 5 menitan karena ada beberapa prosedur yang harus dilalui, yaitu pengecekan data, interview dan terakhir foto. Kantor Imigrasi tidak terlihat seperti perkantoran pada umumnya, yang adem dan sejahtera. Pengunjung yang sedang mengurus paspor akan menjumpai beberapa kelompok yang jelas-jelas bukan warga negara Indonesia, karena bisa didengar dari bahasa dan dilihat dari bentuk wajah yang berbeda dengan bentuk wajah orang Indonesia.

Imigran Gelap. Kelompok yang datang dari timur tengah dan terdampar di negeri ini, mereka bebas berkeliaran kemana aja. Keberadaan mereka membuat saya terpesona dengan salah satu wanita berhijab yang ditemui saat berada di Kantor Imigrasi. Pada saat itu ingin ngajak foto bareng karena muka nya unik, ingin saya jodohin ke BAIM tetapi tidak mungkin karena di samping nya ada anak kecil.

"Coba ajak ngobrol dia tuu..."
"Oke, aku pake Bahasa Inggris."

Setelah di setting, saya mulai mendekati wanita itu dan memberi senyum untuk nya dan dia membalas senyuman saya. "Can You Speak English?" senyuman nya mulai pudar setelah mendengar suara dan terlihat dari wajahnya dia tidak mengerti apa yang sedang saya katakan. Dan ketika itu pun rencana ingin bertanya-tanya tentang nya saya cukupkan sampai disitu.

"Assalamualaikum, kataku."
"Waalaikumsalam, jawab wanita itu."

Ada rasa ga puas karena nggak bisa ngobrol dengan nya, tetapi dia menjawab salam saya itu sudah lebih dari cukup. Banyak pertanyaan yang ingin saya tanyakan padanya dan kepada kelompok lainnya tentang:
1. Kenapa bisa sampai ke Pekanbaru?
2. Emang mereka sadar kalau sedang di kota Pekanbaru?
3. Taukah mereka Pekanbaru itu terletak di Indonesia?
4. Ga kasihan kah mereka dengan anggota yang dibawanya kesini?
5. Nyaman dengan tempat tinggal di sini?
6. Apa yang mereka lakukan disini?
7. Kenapa nggak balik ke daerah asal saja?
8. Trus kok diam aja di tempatkan di sini?
9. .....

Dan isu-isu yang datang dari para Imigran yang meresahkan warga, kalau dilihat dari gerak gerik mereka, membutuhkan perhatian penuh pemerintah. Dengan menempatkan mereka di satu tempat yang sama, tidak terpisah-pisah, lalu diberikan name tag sebagai identitas, dan untuk mencukupi kebutuhan mereka pemerintah bisa memberikan pekerjaan sosial yang berhubungan dengan melayu agar mereka bisa ikut aturan kota Pekanbaru.
Kesimpulannya: "Kalau sama-sama tidak mengerti bahasa lawan berbicara, tetapi masih satu agama. Maka ucap salam adalah komunikasi terbaik yang bisa dilakukan."
©Pekanbaru, 19 Mei 2015 @Cicajoli 

1 comment:

  1. Cukup mendenggar salam adalah suatu hal yang indah, dan nikmat di dengar..
    Mungkin mereka lelah atau takut. :)

    oiya, mampir kesini ya >> http://ken-tang.blogspot.com
    Banyak artikel menarik di blogku ini.
    Artikel-artikel mu juga menarik.. :

    ~ Salam blogger.. :)


    ReplyDelete

Hellow.. Jejak anda yang akan mengubah pikiran saya akan postingan ini, silahkan berkomentar dengan sopan.