Bedah Buku “Malin Bonsu” Bulan Pusaka Pekanbaru 2014

, , 1 comment
Malin Bonsu cerita rakyat yang berasal dari kota Pelalawan, Riau. Adanya kesamaan cerita dengan kisah Romeo dan Juliete, tetapi di akhir kisah Romeo dan Juliete menceritakan bahwa kedua nya meninggal di hari yang sama, sedangkan di kisah Malin Bonsu ini hanya si Malin saja yang meninggal sedangkan Putri Jailan, tunangan Malin Bonsu berubah menjadi Siamang, disini saya tidak akan menjelaskan kenapa tunangan Malin Bonsu bisa berubah menjadi Siamang, bukan salah saya :p


Cerita berlanjut bahwa si Malin Bonsu yang sudah meninggal di hidupkan kembali oleh seorang Peri, Malin Bonsu masih mengingat tentang tunangan nya yang masih berupa Siamang. Ia ingin sekali mengubah tunangan nya menjadi manusia kembali, maka dari itu Malin Bonsu berusaha untuk mencari obat/mantera agar mantera segera punah dari sang tunangan.


Dalam perncarian nya Malin Bonsu di kelilingi oleh tiga wanita yang menjadi istrinya, wanita-wanita ini terpesona dengan Malin Bonsu, karena menurut cerita Malin Bonsu memiliki panu dan panu itulah yang memberikan pesona kepada Malin Bonsu. Dalam kisah Malin Bonsu ini, istri pertama dan istri kedua tidak jelas akhirnya bagaimana sedangkan istri ketiga nya inilah yang memiliki obat untuk mematahkan mantera Putri Jailan, tunangan Malin Bonsu. Malin Bonsu mengetahui dan mencoba mengambil mantera itu, Akhirnya setelah Malin Bonsu mendapatkan mantera tersebut, ia kembali mendatangi tunangan nya dan Putri Jailan kembali menjadi manusia dan mereka hidup bersama.

Mengetahui bahwa Malin Bonsu pergi, Andam Sari - istri ketiga Malin Bonsu marah dan bersedih dengan sikap Malin Bonsu tersebut, akhirnya istri ketiga Malin Bonsu menenggelamkan diri nya ke laut dan menjadi hantu laut.

Pelajaran dari kisah Malin Bonsu ini adalah : ” Cinta Butuh Pengorbanan.”
Kisah Malin Bonsu ini adalah terjemahan dari sebuah nyanyian panjang, yang dulunya di nyanyikan sebagai lagu pengantar tidur untuk anak-anak, bukan kisah nya yang panjang tetapi nyanyian nya lah yang panjang. Jefri salah satu sastrawan Riau, “ Lagu ini liriknya sangat panjang,  berdurasi sekitar 6 hari, banyak lirik yang di ulang maka nya bisa sampai berhari-hari.” Ungkapnya saat ditemui di TB Gramedia kemarin (Pekanbaru, 23 April 2014).

Dengan adanya Bedah Buku “Malin Bonsu” ini sangat memberikan pengetahuan bagi para pemuda-pemudi Riau, bahwa kita punya cerita rakyat yang luar biasa loh. Dan kita memiliki kewajiban untuk menjaga sastra lisan agar bisa selalu eksis sampai kapan pun, bahwa anak dan cucu kita nanti tidak akan miskin dengan cerita rakyat.

Laporan langsung saya yang ikut meramaikan acara Bedah Buku “Malin Bonsu” yang terdapat banyak pelajaran di dalam cerita tersebut, ayo perkaya diri dengan cerita rakyat terdahulu J


Pictures selama Pembedahan berlangsung :

Comot 1

Comot 2

Comot 3

Comot 4

Team Bulan Pusaka




GA Blog Bulan Pusaka
Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Blog : Bulan Pusaka Pekanbaru 2014



1 comment:

  1. luar biasaa..nyanyian panjang... nyanyinya 6 hari
    tanpa hentikah? estafetkaah?

    ReplyDelete

Hellow.. Jejak anda yang akan mengubah pikiran saya akan postingan ini, silahkan berkomentar dengan sopan.